Diposkan   26 Januari 2017   00:00   Admin   Pertanian

Peta Rawan Pangan

Penyusunan Peta Rawan Pangan
 
Penyusunan Peta Rawan Pangan dimaksudkan untuk mengetahui secara dini terjadinya rawan pangan sehingga dengan terdekteksinya rawan pangan secara dini diharapkan dapat diambil langkah kebijakan untuk penanganan rawan pangan. Indikator Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan dapat digolongkan ke dalam dua komponen: Kerentanan Terhadap Kerawanan Pangan Kronis, yang dicerminkan melalui indikator ketersediaan pangan, indikator akses terhadap pangan serta pemanfaatan pangan. Kerentanan Terhadap Kerawanan Pangan Transien, dicerminkan melalui indikator kerentanan terhadap bencana alam dan bencana lainnya.
 
Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik (netto), perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah, dan bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya.
 
Pangan meliputi produk serealia, kacang-kacangan, minyak nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, rempah, gula, dan produk hewani. Karena porsi utama dari kebutuhan kalori harian berasal dari sumber pangan karbohidrat, yaitu sekitar separuh dari kebutuhan energi per orang per hari, maka yang digunakan dalam analisa kecukupan pangan yaitu karbohidrat yang bersumber dari produksi pangan pokok serealia, yaitu padi, jagung, dan umbi-umbian (ubi kayu dan ubi jalar) yang digunakan untuk memenuhi tingkat kecukupan pangan pada tingkat Kabupaten maupun Kecamatan.
 
Peta Ketersediaan Pangan (Rasio konsumsi normative perkapita terhadap ketersediaan bersih Padi + Jagung + Ubi kayu + Ubi jalar)

(GAMBAR NOT FOUND)

Dari gambar peta Ketersediaan Pangan dapat dijelaskan bahwa Range ketersediaan pangan untuk Kabupaten Kudus meliputi range < 0,5 (surplus tinggi), range 0,75 – 1,00 (surplus rendah), range 1,00 – 1,25 (deficit rendah), dan range > 1,5 (defisit tinggi). Range < 0,5 (surplus tinggi) terjadi di wilayah Kecamatan Undaan, range 0,75 – 1,00 (surplus rendah terjadi di wilayah Kecamatan Kaliwungu, Jekulo dan Mejobo, range 1,00 – 1,25 (deficit rendah) terjadi di wilayah Kecamatan Gebog dan range > 1,5 (deficit tinggi) terdapat di wilayah Kecamatan Kota, Jati, Dawe dan Bae.

Akses terhadap Pangan dan Penghidupan
 
Dimensi ke dua dari Ketahanan Pangan adalah Akses terhadap Pangan dan Penghidupan (livelihood). Indikatornya :
  • Persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan (data estimasi dari BPS);
  • Persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung roda empat yang memadai; dan
  • Persentase rumah tangga tanpa akses listrik.
Peta Persentase Penduduk hidup dibawah garis kemiskinan

(GAMBAR NOT FOUND)

Keberagaman ini terdiri dari range 0 – <10, range 10 – <15, range 15 – <20, range 20 – <25 dan range 25 – <35. Range 0 – <10 meliputi wilayah Kecamatan Gebog, Bae, Kota dan Jati. Range 10 – <15 terdapat diwilayah Kecamatan Mejobo, range 15 – <20 meliputi wilayah Kecamatan Dawe dan Kaliwungu, range 20 – <25 terdapat pada wilayah Kecamatan Jekulo dan range 25 – <35 terjadi pada wilayah Kecamatan Undaan. Indikator presentase penduduk hidup dibawah kemiskinan menunjukkan nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan-kebutuhan konsmsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk hidup secara layak. Garis kemiskinan nasional mengguakan US$ 1,5 (PPP – Purchasing Power Parity ) per orang per hari. BPS melalui survei tiga-tahunannya yang mencakup data konsumsi pangan dan non-pangan dan berdasarkan konsumsi normatif 2,000 kkal per hari per kapita, dihitung estimasi persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Berdasarkan data Susenas 2007 BPS menghitung estimasi persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan tingkat kabupaten. Data ini kita gunakan dalam analisis ini (Sumber: Data dan Informasi Kemiskinan, BPS Tahun 2007)
 
Pemanfaatan Pekarangan
 
Dimensi ke-tiga dari ketahanan pangan adalah pemanfaatan pangan. Pemanfaatan pangan meliputi: a) Pemanfaatan pangan yang bisa di akses oleh rumah tangga, dan b) kemampuan individu untuk menyerap zat gizi - pemanfaatan makanan secara efisien oleh tubuh. Indikator :
  • Angka harapan hidup pada saat lahir
  • Berat badan balita di bawah standar (Underweight)
  • Perempuan Buta Huruf
  • Rumah tangga tanpa akses ke air bersih
  • Persentase rumah tangga yang tinggal lebih dari 5 km dari fasilitas kesehatan

Kerentanan Terhadap Kerawanan Pangan Transien
 
Tingkat kerentanan dari tiap individu, rumah tangga atau kelompok masyarakat ditentukan oleh terpaparnya kondisi mereka terhadap faktor-faktor resiko/goncangan dan kemampuan mereka untuk mengatasinya dengan atau tanpa kondisi tertekan. Indikator :
  • Deforestasi hutan adalah perubahan kondisi penutupan lahan dari hutan menjadi non hutan.
  • Penyimpangan Curah Hujan
  • Bencana alam
  • Persentase daerah puso

Peta Rawan Bencana

(GAMBAR NOT FOUND)

Peta Rawan Bencana Alam, di Kabupaten Kudus terdapat wilayah Kecamatan yang rawan terhadap bencana alam, yaitu meliputi wilayah Kecamatan Gebog, Kaliwungu, Jekulo, Mejobo dan Undaan. Adapun bencana alam tersebut meliputi bencana alam tanah longsong dan banjir.
 
Peta Ketahanan Pangan Komposit

(GAMBAR NOT FOUND)

Peta Ketahanan Pangan Komposit, dapat digambarkan dalam range sebagai berikut :
  • Range 0 – 0.16 : wilayah Kecamatan Jati dan Gebog
  • Range 0.16 – 0.32 : wilayah Kecamatan Kota, Bae, Kaliwungu
  • Range 0.32 – 0.48 : wilayah Kecamatan Mejobo dan Jekulo
  • Range 0.48 – 0.64 : wilayah Kecamatan Undaan
  • Range 0.64 – 0.80 : wilayah Kecamatan Dawe
Secara keseluruhan ketahanan pangan di Kabupaten Kudus menunjukkan gambaran yang tidak menghawatirkan (dalam keadaan cukup) kecuali apada 2 (dua) wilayah Kecamatan yaitu Dawe dan Undaan yang perlu mendapatkan perhatian.
 
dari sisi ketersediaan pangan, wilayah Kecamatan Dawe, Bae, Jati dan Kota rasio komsumtif perkapita sangat tinggi, yaitu pada range lebih dari 1,5 atau sama dengan 1, Persentase penduduk dibawah garis kemiskinan terdapat pada wilayah Kecamatan Undaan dengan persentase 25 - < 35 persen dan wilayah Kecamatan Jekulo dengan persentase 20 - < 25 persen. Persentase angka harapan hidup pada saat lahir di wilayah semua Kecamatan menunjukkan range 0 - <58 persen